AA GYM PEMBUKA MATA HATIKU


Bertahun-tahun aku cari jati diri. Di masa kanak-kanak, aku mengenyam pendikan dasar agama dan umum ditambah lagi dengan belajar ngaji Alqur’an di musolla dekat rumahku.

Menginjak usia remaja, aku melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren. Di sana aku dicekoki berbagai ilmu dan keterampilan yang berafiliasi kepada keagamaan tanpa melupakan pengetahuan umum.

Rangkaian pendidikan inilah yang menyampaikanku kepada profesi yang kupilih yakni sebagai guru. Bukan menjadi dosen seperti cita-citaku dulu. Walaupun begitu, aku tetap jalani profesi ini sebaik mungkin.

Masalah demi masalah datang silih berganti seolah-olah jadi makanan pokokku. Entah itu datang dari intern keluarga ataupun intern lembaga. Tak jarang juga aku diterpa masalah yang bersifat ekstern berupa konflik antar lembaga, instansi bahkan dengan tetangga yang notabenenya sebagai wali murid.
Maka apabila masalah ini tidak diselesaikan dengan tepat malah akan menjadi konflik yang berkepanjangan.

Kala otakku lagi dingin, hatiku damai, dan perasaanku tentram, masalah sebesar apa pun dapat ditangani dengan tanpa masalah. Namun pada kondisi sebaliknya, masalah yang sepele pun pasti jadi berabe kalau tidak ditemukan penyelesainnya yang tepat.

Namun tidaklah begitu kenyataannya.
Aku yang suka sekali mendengarkan ceramahnya Aa Gym, sering kali kudapatkan pencerahan sejati dan temuan solusi tepat guna untuk mengatasi masalah-masalah yang tengah aku hadapi.

Lebih dahsyatnya lagi, ternyata Aa Gym sebagai nama panggilan dari KH. ABDULLAH GYMNASTIAR itu tak terasa telah membuka mata hatiku sesuai dengan slogannya (manajemen qolbu). Alhamdu lillah.

Dahulu aku sempat berpikir bahwa akulah orang yang super di mata Tuhan. Amal ibadahku pasti diterima-Nya karena kulakukan sesuai dengan syarat dan ketentuan. Akan tetapi sebenarnya, ini malah sebaliknya.

Sebagaimana ceramah beliau, perasaan-perasaan semacam itulah yang menghalangi amal untuk sampai kepada Tuhan karena ada hijab/penutup berupa penyakit hati. Ujub (merasa paling benar), Hasud (iri terhadap nikmat atas orang lain atau senang melihat penderitaannya), takabur (merasa lebih daripada orang lain), dsb., adalah mala petaka besar yang tak terasa.
Dan apabila diabaikan, ternyata bisa membatalkan nilai-nilai ibadah. Na`udzu billah min dzalik.

Sejak itulah aku temukan cacat pada amalku. Dan aku mulai mempelajari apa arti amal ibadahku serta bagaimana jati diriku.

Trima kasih wahai guruku. Do’aku menyertaimu.

Published in: on 15/11/2009 at 22:27  Comments (1)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://dhanimadani.wordpress.com/2009/11/15/aa-gym-pembuka-mata-hatiku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Anda suka dengan tulisan ini? Silakan tulis dukungan.
    Anda tidak suka dengan tulisan ini? Silakan tulis saran.
    Salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: